© Reuters.

Yen telah menjadi mata uang utama berkinerja terburuk dalam sebulan terakhir karena optimisme perundingan dagang AS dan Cina serta Brexit telah mengurangi permintaan atas mata uang ini. Alasan penurunan lainnya yakni peningkatan perdagangan saham-saham Jepang oleh investor luar negeri.
Menurut laporan yang dilansir Bloomberg Rabu (06/11) petang, dana asing telah mendorong perdagangan bursa Jepang tetapi mereka tidak mau mengambil risiko di mata uang pada saat yang sama. Untuk alasan itu mereka lebih memilih melakukan lindung nilai pembelian dari pergerakan valuta asing, yang biasanya melibatkan penjualan yen melalui kontrak berjangka yang diperpanjang secara berkala. Pembaruan lindung nilai yang konstan ini menciptakan tekanan negatif yang stabil pada yen.
Proporsi perdagangan dana asing di bursa Jepang telah naik ke tingkat tertinggi dalam hampir satu dekade dan sekarang jumlah transaksinya mencapai lebih dari 60%, menurut data Japan Exchange Group Inc. Dominasi dana asing bahkan lebih menonjol dalam aset derivatif yang berkontribusi hampir 80% dari nilai transaksi ekuitas berjangka.
Peningkatan lindung nilai – bersamaan dengan berkurangnya permintaan aset safe haven dan kebijakan moneter akomodatif Bank of Japan – telah membuat yen turun sebesar 1,8% terhadap dolar dalam sebulan terakhir. Mata uang ini turun menjadi 109,29 per dolar minggu lalu, level terendah 1 Agustus, sebelum diperdagangkan pada 108,87 akhir Selasa di Tokyo.
Kenaikan perdagangan dana asing di bursa Jepang dan lindung nilai mata uang terkait kini memainkan pergerakan yang telah lama ada: korelasi terbalik antara mata uang yen dan indeks Nikkei 225.